Sabtu, 05 Desember 2009

menunggu-pesawat-pribadi-boleh-berseliweran

sumber : http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/05/19/menunggu-pesawat-pribadi-boleh-berseliweran/

JANGAN ke Hangzhou di hari-hari libur panjang. Seperti di sekitar hari buruh awal Mei lalu, saya yang sudah berkali-kali ke sana kaget melihat kota turis terkemuka di Tiongkok di hari-hari seperti itu.

Padatnya bukan main. Wilayah sekitar Danau Xihu yang indah dan bersih itu penuh dengan manusia. Termasuk jalan-jalan yang bermuara di danau itu. Maklum, seminggu sejak 1 Mei lalu, Tiongkok “libur emas”. Yakni libur satu minggu untuk hari buruh.

Saya pun terjebak di kepadatan turis lokal itu. Mau mendekat ke danau saja tidak bisa. Padahal, danau yang berada di dalam kota Hangzhou itu luas sekali. Tapi di semua sisinya penuh. Apalagi yang berdekatan dengan Hotel Hyatt yang baru.

Dari tepian, kini, orang memang bisa melihat atraksi air muncrat menari yang berada di tengah danau. Saya hanya melihatnya dari kejauhan. Tidak punya nyali untuk ikut berdesakan.

Sebagai negara komunis, Tiongkok memang menganggap penting hari buruh. Namun, bahwa liburan hari buruh diadakan selama seminggu bukan karena pentingnya hari buruh. Melainkan pentingnya membuat orang lebih banyak menggunakan uangnya untuk kegairahan ekonomi negara.

Libur seperti ini baru diadakan sekitar delapan tahun terakhir. Yakni ketika Tiongkok sudah mulai maju dan rakyatnya sudah mampu berwisata. Maka, terjadilah arus uang dari kota ke desa secara besar-besaran selama seminggu itu.

Di Tiongkok, setiap tahun berlangsung tiga kali libur panjang. Yakni ketika hari buruh (awal Mei), hari kemerdekaan (1-7 Oktober), dan Tahun Baru Imlek. Kita harus tahu hari-hari itu agar rencana perjalanan jadi lancar. Pada hari libur seperti itu semua angkutan di dalam negeri Tiongkok seperti saat Lebaran di Indonesia.

Saya sendiri, dalam perjalanan kali ini, sebenarnya ingin merasakan naik kereta api jarak jauh. Sebab, sejak bulan lalu, Tiongkok membuat langkah ke-6 dalam mempercepat laju keretanya. Sejak bulan lalu, sudah ada ruas jalur 1.000 km kereta dengan kecepatan di atas 250 km/jam. Misalnya dari Shanghai ke Beijing, dari Guangzhou ke Beijing, dari Nanchang ke Shanghai, dan dari Guangzhou ke Shenzhen. Lalu sudah ada 6.000 km yang kecepatannya antara 200-250 km/jam.

Sisanya, yang 14.000 km sudah berkecepatan 150-200 km/jam. Sedang yang 22.000 km masih berkecepatan 120-150 km/jam. (Bandingkan dengan laju kecepatan rata-rata kereta kita yang di bawah 90 km/jam).

Rel kereta api di Tiongkok memang terus diperbaiki sehingga mampu dilalui kereta dengan kecepatan tinggi. Pada 2010 nanti, sudah harus ada 20 ribu kilometer jalan kereta api yang ditingkatkan untuk 250 km/jam. Di samping meningkatkan kualitas kecepatan, rel baru juga terus dibangun. Pada 2020 nanti, di Tiongkok akan terhampar 100 ribu kilometer jalan kereta api rel ganda.

Tidak ada komentar:

Masih Kosong Nih