http://www.radartegal.com/index.php/Grow-with-Character-14/100-Series-by-Hermawan-Kartajaya.html
Grow with Character (14/100) Series by Hermawan Kartajaya
Ditulis oleh Administrator
Wednesday, 03 February 2010
MAKNA entrepreneurship memang tidak harus selalu diterjemahkan sebagai "pengusaha”. Bahkan, ada suatu riset yang menemukan bahwa orang yang mulai usaha tanpa persiapan yang matang akan gagal. Sudah banyak contohnya.
Seorang eksekutif yang hebat dari perusahaan besar, swasta atau multinational bahkan BUMN, gagal setelah bekerja sendiri. Ketika bekerja di suatu perusahaan sebagai profesional, seorang eksekutif hanya ngurusin bidangnya. Yang penting, KPI atau key performance index harus diperhatikan. Sebab, di situlah dia dinilai, dievaluasi, dipromosikan, dan sebagainya.
Biasanya, dia tidak peduli pada fungsi lain. Bahkan, sering saling menjatuhkan untuk "naik" ke tangga lebih tinggi yang lebih "menyempit" jalannya.Yang penting bisa memanajemeni atas, bawah, dan samping!
Saya sengaja pertama menyebut kata "atas" karena banyak eksekutif yang pintar manage his or her boss, tapi lupa "bawah”. Bila perlu diinjak sekalian!
Memanajemeni "tengah" atau managing peers juga sering harus dilakukan untuk mendapatkan support dari teman-teman selevel. Baru setelah itu, memanajemeni anak buah. Padahal, mestinya, yang ke bawah ini yang harus dilakukan dengan baik dulu. Baru ke tengah dan ke atas. Tapi, gerakan "menjilat ke atas" dan "menginjak ke bawah”-lah yang sering terjadi.
Kalau bawahan salah, dia melapor ke atas sebelum dia disalahkan. Padahal, dia mestinya yang bertanggung jawab. Kalau bawahan bagus, dia yang take credit di mata atasan. Padahal, dia harus "melaporkannya"dengan "fair" ke atas.
Itulah sebagian kecil di antara office politics di dalam korporasi apa pun.
Karena suatu organisasi perusahaan berisi manusia yang punya berbagai hidden agenda, office politics tidak terhindarkan. Yang ada cuma perbedaan kadarnya. Ada yang kadarnya gede, ada yang kecil.
Susahnya, kalau seorang eksekutif lebih bertindak sebagai "pemain" daripada "professional”. Kalau sudah begitu, ya memang susah menumbuhkan entrepreneurship dalam perusahaan. Pak Ciputra dulu mengatakan kepada saya bahwa setiap pemimpin pada anak perusahaannya ditantang jadi entrepreneur. Caranya?
Masing-masing diberi kebebasan untuk melakukan apa saja asal niatnya baik dan mencapai target! "Anggap aja Anda yang punya perusahaan itu.
Tentu tidak mudah melakukan itu ketika Anda hanya biasa jadi "pemain" atau paling banter jadi "professional”. Now you are "above the politics”. Anda di atas corporate politics itu. Tidak usah menjilat ke atas lagi karena tidak ada gunanya. Karena itu, Anda "terpaksa harus" fokus pada managing your people.
Hambatan lain pada seorang eks profesional untuk jadi entrepreneur ialah tidak biasa "terbebas dari situasi”. Dalam hal ini, saya suka me-refer pada habit pertama Stephen Covey dalam Seven Habit, yaitu pro-activity!
Banyak orang mengira bahwa proaktif berarti Anda melakukan sesuatu sebelum ada kejadian.
Proaktif bukan lawan reaktif yang "pas”. Proaktif lebih punya arti bahwa Anda bisa membebaskan diri dari "tekanan" situasi atau lingkungan hidup atau kerja. Seorang profesional, apalagi pemain, tidak berlatih untuk itu. Sedangkan entrepreneur bisa mengatasi situasi sejelek apa pun. Sebab, dia tahu bahwa kalau tidak on top of situation, dia akan habis!
Yang terakhir, yang saya catat adalah "target”. Kenapa seorang entrepreneur harus me-refer pada target" Sebab, dia bisa memasang target sendiri, bukan mendapatkan target dari "langit”. Sedangkan seorang profesional sering tertekan oleh target yang dibuat atasan walaupun sudah disetujuinya. Penyebabnya, dia tidak merasa itu bukan inisiatifnya!
Jadi, waktu itu Pak Ci juga mengingatkan saya. Entrepreneurship tidak berarti harus membuka usaha sendiri. Anda bisa jadi entrepreneur di sebuah korporasi asal Anda bisa dan diberi kesempatan untuk tiga hal.
Pertama, bisa menempatkan diri above corporate politics. Kedua, bisa pro-active, bukan reactive. Ketiga, bisa menetapkan target sendiri seolah memiliki perusahaan itu sendiri. Silakan mencoba. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar